Menjelajah Menuju Kebebasan


            Pengalaman ini kualami saat aku masih duduk di bangku kelas 8. Pada hari itu aku dan sahabatku yang bernama Bare berencana untuk pergi menjelajah ke daerah-daerah Kaliurang. Di malam hari sebelum keberangkatan, barang-barang yang dibutuhkan untuk menjelajah selama 2 hari telah terpacking rapi di ransel kami masing-masing.

Kami berangkat pada pukul 8 pagi dengan menggunakan sepeda. Perjalanan di Jalan Kaliurang belum terasa berat. Hingga pada Jalan Kaliurang KM.17 ke atas rasa berat untuk mengayuh sudah mulai terasa. Sebelum melanjutkan perjalanan ke jalan menuju Sinolewah yaitu tempat tujuan kami untuk diobservasi, kami singgah sejenak ke salah satu rumah kakak kelas kami yang bernama Mbak Prista. Ia memberi info kepada kami bahwa rumahnya berada di Gang Cilikan yang terletak di dekat Gang Koplak. Sesampainya di rumah Mbak Prista, kami mencarinya. Ternyata ia sedang pergi. Terpaksa kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Sinolewah. Jalan yang kami lalui kali ini benar-benar menanjak, ditambah lagi beban ransel kami yang cukup berat. Terkadang kami harus menuntun sepeda kami karena kondisi medan yang ekstrim. Berkali-kali kami berhenti untuk beristirahat. Bekal minum yang kami bawa pun lama-kelamaan menipis, sehingga kami pun singgah di sebuah warung untuk membeli minum. Di saat itu, kami juga sempat membeli jadah tempe untuk tambahan bekal perjalanan. Tikungan demi tikungan kami lewati, tempat demi tempat kami singgahi, hingga kami sampai di suatu tempat bernama SD Gondang. Kami segera membuka peta yang telah kami bawa. Menurut peta, SD Gondang letaknya telah dekat dengan Buper WanaGondang yang terletak di dekat Buper Sinolewah. Kami langsung melanjutkan perjalanan dengan penuh semangat. Ternyata memang benar bahwa Buper Sinolewah telah dekat.
Sesampainya di Sinolewah, kami segera mencari tempat yang rindang dan teduh. Lalu kami menggelar matras dan menyiapkan alat-alat untuk memasak. Kami memasak mie dan merebus air. Aku mengambil air di kran sekitar Sinolewah untuk dimasak, tetapi akhirnya kami tidak menggunakannya karena mengandung banyak hewan kecil di dalamnya yang kami beri nama dengan “Makhluk Waterboom”. Kami juga memakan jadah tempe yang kami beli di jalan. Setelah puas beristirahat, kami berjalan-jalan di sekitar Sinolewah untuk mengobservasinya setelah erupsi Gunung Merapi. Di Sinolewah inilah, kenangan saat kami masih duduk di kelas 7. Kenangan berkemah dengan teman-teman seangkatanku. Rasanya rindu, ingin mengulang Kemah Galang itu. Saat itu juga, pertama kali aku mengenal figure seorang Mbak Prista yang mempanitiai Perkemahan itu.
Beberapa menit berlalu, kami yang rencananya menginap di halaman rumah Mbak Prista, segera bergegas menuju rumahnya lagi. Jarak dari Sinolewah ke rumahnya ± 4 KM. Dalam perjalanan turun ini kami hanya memakan waktu ± 15 menit. Perjalanan ini dihitung sangat cepat dibandingkan dengan perjalanan naik yang memakan waktu ± 1,5 Jam.
 Sesampainya di rumah Mbak Prista, kami tidak perlu mencarinya lg karena ia telah menunggu kami di depan rumah joglonya yang unik. Pada saat itu kira-kira pukul 4 sore. Kami mengeluarkan ponco, tongkat dan tali untuk mendirikan tenda darurat diantara pepohonan. Setelah tenda telah berdiri tegak, kami bermain ke Kali Kuning untuk melihat keadaannya. Kali Kuning merupakan jalur lahar dingin saat erupsi Gunung Merapi. Di sana keadaanya ternyata tidak terlalu parah. Bare yang senang bermain di sungai sangat senang saat mengetahui hal itu. Ia masuk ke dalam Kali dan membuat bendungan-bendungan kecil. Entah apa yang dipikirkannya, tetapi dia menganggap hal itu mengasyikkan.
Kami kembali ke rumah Mbak Prista saat adzan maghrib berkumandang. Cepat-cepat kami mengambil air wudlu dan sholat di masjid. Seusai sholat, aku dan Bare yang kelaparan memasak mie lagi untuk makan malam. Sementara itu, Mbak Prista yang keesokan harinya mengikuti TPM kelas 9 belajar di dalam rumah. Kami masak mie bergantian karena hanya terdapat 1 buah kompor paraffin. Bare yang makan terlebih dahulu, seusai makan, ia berbaring di tenda darurat kami. Pada saat giliranku memasak, Bare yang sedang asyik berbaring tidak sadar bahwa kakinya masuk ke dalam mangkukku yang telah terisi mie. Tetapi karena aku terlalu lapar, mie itu tetap aku makan. Untungnya saja perutku baik-baik saja.
Malam harinya, karena sangat lelah kami tertidur sangat pulas. Tanpa kami sadari, pada tengah malam hujan pun turun dengan lebatnya. Tenda darurat kami yang terbuat dari 2 ponco itu tidak tersambung dengan baik di bagian atasnya. Tetesan-tetesan air hujan pun lama-kelamaan masuk ke dalam tenda kami. Alhasil, sekujur tubuh kami pun basah. Tiba-tiba Mbak Prista datang untuk menyelamatkan kami. Ia membawa payung yang cukup besar, tetapi hanya cukup untuk 2 orang. Mbak Prista menyelamatkan Bare dahulu, tetapi karena terlalu lama aku nekat untuk keluar tenda dengan membawa semua barang-barangku yang ada di ransel dan membawanya ke dalam rumah. Untung saja jarak antara tenda dengan rumah Mbak Prista tidak terlalu jauh, sehingga baju yang aku gunakan tidak terlalu basah. Malam itu kami lanjutkan dengan tidur beralaskan matras dan berselimut sarung di garasi rumah Mbak Prista. Hawa dingin pun menusuk sekujur tubuh kami.
Keesokan harinya, kami terbangun untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid. Kami berjalan menuju masjid dengan tubuh menggigil. Seusai sholat, kami merapikan tenda dan dilanjutkan dengan memasak. Kali ini, kami memasak dendeng, yaitu sejenis daging yang ditipis-tipiskan. Lalu setelah makan dan membongkar tenda, kami berpamitan karena pada hari itu Mbak Prista masuk sekolah, sementara aku dan Bare libur. Pada saat Mbak Prista berangkat sekolah, kami membuntutinya karena tujuan kami selanjutnya adalah SMPN 8 tercinta. DI SMPN 8 diadakan musyawarah Dewan Penggalang dan kami pun mengikutinya. Sungguh mengasyikkan penjelahan itu, semoga pada suatu hari nanti aku dapat mengulangnya bersama mereka.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

0 Response to "Menjelajah Menuju Kebebasan"

Posting Komentar