Menjelajah Menuju Kebebasan
Posted in
Label:
my story
|
di
13.47
Pengalaman
ini kualami saat aku masih duduk di bangku kelas 8. Pada hari itu aku dan
sahabatku yang bernama Bare berencana untuk pergi menjelajah ke daerah-daerah
Kaliurang. Di malam hari sebelum keberangkatan, barang-barang yang dibutuhkan
untuk menjelajah selama 2 hari telah terpacking rapi di ransel kami
masing-masing.
Kami
berangkat pada pukul 8 pagi dengan menggunakan sepeda. Perjalanan di Jalan
Kaliurang belum terasa berat. Hingga pada Jalan Kaliurang KM.17 ke atas rasa
berat untuk mengayuh sudah mulai terasa. Sebelum melanjutkan perjalanan ke
jalan menuju Sinolewah yaitu tempat tujuan kami untuk diobservasi, kami singgah
sejenak ke salah satu rumah kakak kelas kami yang bernama Mbak Prista. Ia
memberi info kepada kami bahwa rumahnya berada di Gang Cilikan yang terletak di
dekat Gang Koplak. Sesampainya di rumah Mbak Prista, kami mencarinya. Ternyata
ia sedang pergi. Terpaksa kami langsung melanjutkan perjalanan menuju
Sinolewah. Jalan yang kami lalui kali ini benar-benar menanjak, ditambah lagi
beban ransel kami yang cukup berat. Terkadang kami harus menuntun sepeda kami
karena kondisi medan yang ekstrim. Berkali-kali kami berhenti untuk
beristirahat. Bekal minum yang kami bawa pun lama-kelamaan menipis, sehingga
kami pun singgah di sebuah warung untuk membeli minum. Di saat itu, kami juga
sempat membeli jadah tempe untuk tambahan bekal perjalanan. Tikungan demi
tikungan kami lewati, tempat demi tempat kami singgahi, hingga kami sampai di
suatu tempat bernama SD Gondang. Kami segera membuka peta yang telah kami bawa.
Menurut peta, SD Gondang letaknya telah dekat dengan Buper WanaGondang yang
terletak di dekat Buper Sinolewah. Kami langsung melanjutkan perjalanan dengan
penuh semangat. Ternyata memang benar bahwa Buper Sinolewah telah dekat.
Sesampainya
di Sinolewah, kami segera mencari tempat yang rindang dan teduh. Lalu kami
menggelar matras dan menyiapkan alat-alat untuk memasak. Kami memasak mie dan
merebus air. Aku mengambil air di kran sekitar Sinolewah untuk dimasak, tetapi
akhirnya kami tidak menggunakannya karena mengandung banyak hewan kecil di
dalamnya yang kami beri nama dengan “Makhluk Waterboom”. Kami juga memakan
jadah tempe yang kami beli di jalan. Setelah puas beristirahat, kami
berjalan-jalan di sekitar Sinolewah untuk mengobservasinya setelah erupsi
Gunung Merapi. Di Sinolewah inilah, kenangan saat kami masih duduk di kelas 7.
Kenangan berkemah dengan teman-teman seangkatanku. Rasanya rindu, ingin
mengulang Kemah Galang itu. Saat itu juga, pertama kali aku mengenal figure
seorang Mbak Prista yang mempanitiai Perkemahan itu.
Beberapa
menit berlalu, kami yang rencananya menginap di halaman rumah Mbak Prista,
segera bergegas menuju rumahnya lagi. Jarak dari Sinolewah ke rumahnya ± 4 KM.
Dalam perjalanan turun ini kami hanya memakan waktu ± 15 menit. Perjalanan ini
dihitung sangat cepat dibandingkan dengan perjalanan naik yang memakan waktu ±
1,5 Jam.
Sesampainya di rumah Mbak Prista, kami tidak
perlu mencarinya lg karena ia telah menunggu kami di depan rumah joglonya yang
unik. Pada saat itu kira-kira pukul 4 sore. Kami mengeluarkan ponco,
tongkat dan tali untuk mendirikan tenda darurat diantara pepohonan. Setelah
tenda telah berdiri tegak, kami bermain ke Kali Kuning untuk melihat keadaannya. Kali Kuning merupakan jalur lahar dingin saat erupsi Gunung Merapi. Di sana keadaanya
ternyata tidak terlalu parah. Bare yang senang bermain di sungai sangat senang
saat mengetahui hal itu. Ia masuk ke dalam Kali dan membuat bendungan-bendungan
kecil. Entah apa yang dipikirkannya, tetapi dia menganggap hal itu
mengasyikkan.
Kami
kembali ke rumah Mbak Prista saat adzan maghrib berkumandang. Cepat-cepat kami
mengambil air wudlu dan sholat di masjid. Seusai sholat, aku dan Bare yang
kelaparan memasak mie lagi untuk makan malam. Sementara itu, Mbak Prista yang
keesokan harinya mengikuti TPM kelas 9 belajar di dalam rumah. Kami masak mie
bergantian karena hanya terdapat 1 buah kompor paraffin. Bare yang makan
terlebih dahulu, seusai makan, ia berbaring di tenda darurat kami. Pada saat
giliranku memasak, Bare yang sedang asyik berbaring tidak sadar bahwa kakinya
masuk ke dalam mangkukku yang telah terisi mie. Tetapi karena aku terlalu
lapar, mie itu tetap aku makan. Untungnya saja perutku baik-baik saja.
Malam
harinya, karena sangat lelah kami tertidur sangat pulas. Tanpa kami sadari,
pada tengah malam hujan pun turun dengan lebatnya. Tenda darurat kami yang
terbuat dari 2 ponco itu tidak tersambung dengan baik di bagian atasnya.
Tetesan-tetesan air hujan pun lama-kelamaan masuk ke dalam tenda kami. Alhasil,
sekujur tubuh kami pun basah. Tiba-tiba Mbak Prista datang untuk menyelamatkan
kami. Ia membawa payung yang cukup besar, tetapi hanya cukup untuk 2 orang.
Mbak Prista menyelamatkan Bare dahulu, tetapi karena terlalu lama aku nekat
untuk keluar tenda dengan membawa semua barang-barangku yang ada di ransel dan
membawanya ke dalam rumah. Untung saja jarak antara tenda dengan rumah Mbak
Prista tidak terlalu jauh, sehingga baju yang aku gunakan tidak terlalu basah.
Malam itu kami lanjutkan dengan tidur beralaskan matras dan berselimut sarung
di garasi rumah Mbak Prista. Hawa dingin pun menusuk sekujur tubuh kami.
Keesokan
harinya, kami terbangun untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid.
Kami berjalan menuju masjid dengan tubuh menggigil. Seusai sholat, kami
merapikan tenda dan dilanjutkan dengan memasak. Kali ini, kami memasak dendeng,
yaitu sejenis daging yang ditipis-tipiskan. Lalu setelah makan dan membongkar
tenda, kami berpamitan karena pada hari itu Mbak Prista masuk sekolah,
sementara aku dan Bare libur. Pada saat Mbak Prista berangkat sekolah, kami
membuntutinya karena tujuan kami selanjutnya adalah SMPN 8 tercinta. DI SMPN 8
diadakan musyawarah Dewan Penggalang dan kami pun mengikutinya. Sungguh
mengasyikkan penjelahan itu, semoga pada suatu hari nanti aku dapat
mengulangnya bersama mereka.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 Response to "Menjelajah Menuju Kebebasan"
Posting Komentar